Unas Quo Vadis

Selama lima hari diakhir bulan Maret 2010, saya mengamati secara langsung pelaksanaan ujian nasional disalah satu sekolah madrasah aliyah disingkat MA (setingkat SMA) di desa nelayan, pesisir pantai kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Ada beberapa temuan, yang menarik adalah:

Listening Comprehension
Ujian mata pelajaran bahasa Inggris pada sesi pertama adalah listening, dengan sungguh-sungguh peserta ujian mendengarkan kaset listening yang yang diputar disekolah tersebut diatas untuk menjawab soal-soal ujian nasional SMA/MA yang dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) dari Kementrian Pendidikan Nasional, Jakarta.
Hebat karena waktu jaman saya ujian kelas 3 SMA belum ada ujian listening, dan lebih hebat lagi di sekolah tersebut tidak ada fasilitas laboratorium bahasa!

Unas, dari mana hendak kemana?
Untuk mereduksi kontroversi selama ini serta pengelolaan manajemen pendidikan nasional kita bisa belajar dari kasus sekolah MA di desa nelayan pesisir pantai kabupaten Lamongan tersebut, pemerintah harus sungguh-sungguh memfasilitasi pemerataan sarana serta prasarana institusi pendidikan disemua wilayah Indonesia.
Implikasi penurunan moral dilihat oleh sosiolog Imam B Prasodjo: “Tetap mempertahankan Unas dengan keterbatasan fasilitas belajat mengajar akan membangun mental generasi muda tak sesuai dengan tujuan UN itu sendiri” kemudian lanjut dia, “Unas hanya akan mengembangkan kemampuan contek-mencontek dan menipu dalam rangka mencerdaskan akal tipu-menipu bangsa,” (Kompas.com)

Bagaiman pendapat teman-teman?

This entry was posted in Edukasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s